Wisatawan Asing Soroti Banjir Kuta Lombok Tengah, Kritik Alih Fungsi Lahan

Pojok NTB – Seorang wisatawan asing sekaligus travel blogger, Moniability, meluapkan keresahannya terkait banjir yang kembali melanda kawasan Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Melalui unggahannya, ia mengaku sedang berada dalam “misi penyelamatan” setelah seorang temannya kehilangan seluruh barang akibat banjir yang menerobos masuk ke rumah sewaan.

“Air masuk dan menyapu habis semuanya. Pakaian, rasa aman, stabilitas. Hilang dalam lima menit,” tulisnya.

Ia menyebut peristiwa tersebut bukan yang pertama kali terjadi. “Cerita yang sama, banjir yang berbeda,” ungkapnya, seraya menyinggung pola pembangunan yang dinilai terlalu berorientasi pada keuntungan atau return on investment (ROI).

Menurutnya, hujan adalah hal yang normal. Namun yang tidak normal adalah maraknya penebangan pohon, perataan bukit, serta pembangunan masif dengan beton yang menutup hampir seluruh permukaan tanah. Ia juga mengkritik pembangunan tembok dan infrastruktur yang dianggap justru menjebak aliran air.

“Ketika akar dicabut, stabilitas ikut hilang. Ketika tanah dicekik, ia akan bergerak. Alam tidak bereaksi berlebihan, alam merespons,” tulisnya.

Moniability menekankan bahwa pembangunan yang cerdas seharusnya memberi ruang bagi alam, menjaga pepohonan, menghormati kontur tanah, dan membiarkan air mengalir ke jalur alaminya.

“Keberlanjutan bukan soal estetika, tapi tanggung jawab. Kita tidak mendominasi tanah, kita bekerja sama dengannya,” ujarnya.

Sementara itu, Tim Pojok NTB telah berupaya menghubungi Bupati Pathul Bahri dan Sekretaris Daerah Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya untuk meminta tanggapan terkait banjir di kawasan Kuta Lombok Tengah. Namun hingga berita ini diterbitkan, keduanya belum memberikan respons dan belum dapat dihubungi.