Program MBG NTB Jangkau Hampir 2 Juta Penerima, Serap 31 Ribu Tenaga Kerja

Pojok NTB – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga 1 Februari 2026, jumlah penerima manfaat tercatat hampir dua juta orang yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan serta kelompok rentan.

Data terbaru mencatat penerima manfaat terbesar berasal dari jenjang SD kelas 1–3 sebanyak 278.009 siswa dan SD kelas 4–6 sebanyak 266.110 siswa. Program ini juga menjangkau 205.836 balita, 182.853 siswa SMP, 119.957 siswa SMA, 118.983 siswa MI, serta puluhan ribu penerima lain dari jenjang PAUD, TK, MTs, SMK, MA, SLB, hingga pondok pesantren dan PKBM.

Tak hanya menyasar peserta didik, MBG juga menyentuh kelompok ibu hamil (32.902 orang) dan ibu menyusui (76.596 orang). Selain itu, program ini turut mendukung ekosistem pendidikan dan kesehatan dengan melibatkan 117.346 guru, 16.554 tenaga kependidikan, serta 8.194 kader posyandu dan tenaga kesehatan.

Dari sisi infrastruktur layanan, hingga awal Februari 2026 tercatat sekitar 670 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) aktif di NTB. Mayoritas dikelola oleh mitra seperti masyarakat, yayasan, dan UMKM sebanyak 660 unit. Sisanya tersebar di pondok pesantren (5 unit), POLRI (4 unit), dan TNI AU (1 unit).

Program ini juga memberi dampak ekonomi yang luas. Sebanyak 31.509 tenaga kerja lokal terserap di seluruh rantai distribusi, mulai dari kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, koordinator lapangan, juru masak, petugas kebersihan, hingga tenaga keamanan dan pengemudi.

Di sektor kemitraan, tercatat 2.719 supplier lokal terlibat, terdiri dari 90 koperasi, 17 BUMDes, 1.400 UMKM, 1.206 supplier lainnya, serta 6 Koperasi Desa Merah Putih.

Pemerintah Provinsi NTB menilai capaian ini menandai fase ekspansi dan konsolidasi program. Ke depan, fokus tidak lagi semata pada penambahan penerima, tetapi juga pemerataan layanan hingga wilayah terpencil dan kepulauan, penguatan mutu serta keamanan pangan, keberlanjutan layanan bagi kelompok prioritas, serta peningkatan tata kelola dan integrasi data lintas sektor.

Secara keseluruhan, MBG di NTB dinilai menjadi program strategis yang tidak hanya memperkuat pemenuhan gizi anak dan kelompok rentan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal secara nyata.