NTB Perkuat MICE, Pariwisata Tumbuh dan Ekonomi Rakyat Bergerak

Pojok NTB – Pariwisata Nusa Tenggara Barat kini bergerak dengan arah yang lebih jelas. Tak hanya mengejar jumlah kunjungan, pemerintah daerah menempatkan sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) sebagai strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada masyarakat.

Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menegaskan pembangunan pariwisata harus berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan. Pada tahun pertama kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri, sektor MICE diperkuat bukan sekadar untuk meramaikan agenda, tetapi untuk menghadirkan wisatawan berkualitas dan memperpanjang lama tinggal mereka.

“Kita ingin pariwisata NTB naik kelas. MICE adalah instrumen strategis untuk mendatangkan wisatawan berkualitas dan menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.

Sepanjang 2025–2026, NTB semakin mantap sebagai tuan rumah berbagai ajang besar. Di kawasan Mandalika, sejumlah event internasional digelar, mulai dari MotoGP Indonesia hingga GT World Challenge Asia.

Ajang nasional seperti Festival Olahraga Masyarakat Nasional VIII (Fornas VIII) juga sukses menghadirkan lebih dari 18.000 peserta dari 38 provinsi. Sementara event lari berskala nasional, Pocari Sweat Run Lombok, diikuti lebih dari 9.000 pelari dari berbagai kota di Indonesia.

Di sisi budaya, Festival Bau Nyale tetap menjadi magnet wisata tahunan yang memperkuat identitas lokal sekaligus daya tarik internasional.

Efek ekonomi dari rangkaian event tersebut terasa signifikan. Penyelenggaraan MotoGP 2025 di Mandalika mencatat lebih dari 140 ribu penonton sepanjang akhir pekan balapan. Okupansi hotel di kawasan Mandalika mencapai 100 persen, sementara tingkat hunian hotel di Lombok menembus lebih dari 90 persen. Estimasi perputaran ekonomi selama ajang ini mencapai sekitar Rp4,8 triliun.

Fornas VIII mendorong perputaran ekonomi lebih dari Rp800 miliar dan menciptakan sekitar 9.500 lapangan kerja sementara. Sektor ritel di Mataram mencatat kenaikan kunjungan hingga 11 persen, dengan peningkatan pendapatan pelaku usaha mencapai 80–100 persen dibandingkan hari normal.

Sementara itu, Pocari Sweat Run Lombok 2025 diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi lebih dari Rp50 miliar, dengan peningkatan jumlah penumpang di Bandara Internasional Zainuddin Abdil Madjid sekitar 3 persen selama periode kegiatan.

Hotel terisi, kendaraan sewa laris, warung makan ramai, dan produk UMKM semakin banyak terjual. Event tak lagi menjadi sekadar tontonan, tetapi momentum nyata peningkatan pendapatan masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik NTB mencatat tingkat hunian kamar hotel bintang pada Oktober 2025 mencapai 43,51 persen, dengan lebih dari 120 ribu tamu menginap dalam satu bulan. Rata-rata lama tinggal mendekati dua hari, menunjukkan peserta event tak hanya datang untuk rapat, tetapi juga menikmati destinasi wisata.

Pemerintah daerah juga mendorong integrasi paket wisata pra dan pasca-event, melibatkan desa wisata serta pelaku ekonomi kreatif agar manfaatnya menyebar lebih luas.

Di balik geliat event, konsep pariwisata berkelanjutan mulai diterapkan lebih terstruktur. Sejumlah venue MICE mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memprioritaskan produk lokal dalam konsumsi acara, serta melibatkan UMKM dan komunitas desa wisata.

Di kawasan Gili dan pesisir selatan Lombok, pelaku industri pariwisata semakin aktif dalam kampanye kebersihan laut dan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Bagi Pemprov NTB, keberhasilan MICE bukan semata soal padatnya kalender event, melainkan efek berganda yang dihasilkan. Setiap konferensi dan ajang olahraga membawa peluang bagi hotel, transportasi, perajin lokal, hingga pemandu wisata.

NTB kini menegaskan diri bukan hanya sebagai destinasi indah, tetapi sebagai pusat MICE dan sport tourism yang bertanggung jawab. Pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan berjalan beriringan—membangun pariwisata yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.