BKKBN NTB Soroti Pernikahan Dini dan Sanitasi sebagai Pemicu Stunting

Pojok NTB — Kepala BKKBN Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Makripuddin, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga sangat dipengaruhi faktor sosial dan lingkungan yang disebut sebagai faktor sensitif.

Menurutnya, faktor sensitif menyumbang sekitar 70 persen penyebab terjadinya stunting. Karena itu, pencegahan pada faktor ini menjadi kunci utama dalam menurunkan prevalensi stunting di NTB.

“Stunting dipengaruhi dua faktor, yakni faktor spesifik terkait kesehatan dan faktor sensitif yang berpengaruh hingga 70 persen. PR terbesar kita ada pada faktor sensitif ini,” kata Makripuddin.

Ia menjelaskan, faktor sensitif meliputi tingginya angka pernikahan usia anak, sanitasi lingkungan yang buruk, keterbatasan akses air bersih, serta kondisi hunian yang belum layak. Selain itu, meningkatnya kasus kehamilan berisiko tinggi atau dikenal dengan istilah 4 Terlalu juga menjadi perhatian serius.

“Empat terlalu itu hamil terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan jarak kehamilan terlalu dekat. Ini cenderung meningkat dan berkontribusi besar terhadap stunting,” ujarnya.

Tak hanya itu, kehamilan yang tidak direncanakan juga dinilai memperbesar risiko stunting. Menurut Makripuddin, kondisi tersebut kerap menyebabkan kurangnya perhatian ibu terhadap kesehatan kehamilan.

“Kehamilan yang tidak diinginkan membuat perawatan kehamilan menjadi kurang optimal, dan ini berdampak pada tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya intervensi lintas sektor untuk mengatasi faktor sensitif tersebut, mulai dari edukasi pencegahan pernikahan dini, perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, hingga peningkatan kualitas hunian masyarakat.

“Kalau kita bisa mencegah lahirnya stunting baru, maka setiap tahun angka stunting bisa berkurang sekitar 20 persen. Ini kunci utama percepatan penurunan stunting di NTB,” tegasnya.