Pojok NTB — Festival Resep Keadilan Bencana menjadi ruang temu strategis bagi pembuat kebijakan, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan komunitas untuk membahas pengurangan risiko bencana yang inklusif di Lombok Timur. Kegiatan ini digelar pada Rabu, 21 Januari 2026, di Perpustakaan Umum Daerah Lombok Timur.
Acara yang merupakan bagian dari Proyek GENERATE di University of Leeds ini menyoroti tingginya kerentanan Lombok terhadap bencana. Berdasarkan data BPBD Provinsi NTB, dalam satu tahun terakhir Pulau Lombok mengalami 578 kejadian bencana, dengan Kabupaten Lombok Timur mencatat jumlah kejadian terbanyak. Lombok sendiri rentan terhadap 12 jenis bencana, mulai dari banjir, gempa bumi, hingga wabah penyakit menular.
Selain tingginya intensitas bencana, sejumlah kelompok diketahui mengalami dampak yang tidak proporsional, seperti perempuan, penyandang disabilitas, anak-anak, lansia, serta masyarakat miskin dan kelompok marjinal lainnya. Isu ketidakadilan inilah yang menjadi fokus utama diskusi dalam festival tersebut.
Acara dibuka oleh Associate Professor Gender dan Iklim, Dr. Katie McQuaid, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lombok Timur, serta Wakil Bupati Lombok Timur. Lebih dari 130 peserta hadir, terdiri dari aktivis, perwakilan 15 organisasi masyarakat sipil, BPBD, PMI, Bappeda, hingga sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemkab Lombok Timur.
Dr. Katie McQuaid menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana tidak bisa dilepaskan dari upaya mengatasi ketidakadilan sosial. Menurutnya, perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas kerap menanggung beban bencana yang lebih besar akibat kesenjangan struktural yang masih terjadi.
“Ketidakadilan seperti kesenjangan upah gender, perkawinan anak, dan diskriminasi harus ditangani sebagai bagian dari pengelolaan risiko bencana yang bermakna,” ujarnya.
Dalam panel diskusi, terungkap kondisi wilayah selatan Lombok Timur yang mengalami banjir besar meskipun menghadapi kelangkaan air akibat perubahan iklim. Sebanyak 44.000 rumah dilaporkan terendam dan sekitar 5.600 rumah mengalami kerusakan, sementara perlindungan sosial belum sepenuhnya menjangkau seluruh warga terdampak.
Panel kedua menghadirkan perwakilan komunitas dan pemerintah daerah yang menampilkan berbagai inisiatif berbasis komunitas, khususnya yang digerakkan oleh perempuan dan penyandang disabilitas, sebagai bagian dari upaya membangun ketangguhan bencana yang inklusif.
Festival ini juga dirangkaikan dengan peluncuran Pameran Publik Resep Keadilan Bencana, yang menampilkan karya seni hasil kolaborasi komunitas dari berbagai wilayah di Lombok. Pameran ini menjadi medium penyampaian pengalaman hidup, kekuatan, serta visi keadilan bencana yang dipimpin oleh komunitas.
Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menangani ketidakadilan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengurangan dan pengelolaan risiko bencana di Lombok.












