Pojok NTB — Berawal dari dapur sederhana dan resep turun-temurun, Nutsafir Cookies kini menjelma menjadi salah satu produk kue kering khas Lombok yang mampu bertahan lebih dari satu dekade dan menembus pasar internasional.
Di balik kesuksesan tersebut, berdiri sosok Sayuk Wibawati, pemilik Nutsafir Cookies, yang konsisten mengusung inovasi, kualitas, serta pemberdayaan perempuan sebagai nilai utama usahanya.
Sayuk menjelaskan, sejak awal Nutsafir Cookies dibuat dengan komitmen kuat terhadap kualitas dan keamanan pangan. Produk kue kering yang dihasilkan tidak menggunakan bahan pengawet, pewarna buatan, maupun pemanis buatan, sehingga aman dikonsumsi oleh semua kalangan usia.
“Kami benar-benar tidak menggunakan bahan pengawet atau pewarna. Semua aman dikonsumsi, dari anak-anak sampai orang tua,” ungkap Sayuk.
Komitmen tersebut dibuktikan dengan diraihnya bintang satu keamanan pangan dari BPOM, yang menunjukkan bahwa proses produksi dilakukan secara higienis dengan pemilihan bahan baku berkualitas.
Berbeda dari kue kering pada umumnya yang identik dengan kacang tanah, Nutsafir Cookies justru mengembangkan produk berbasis beragam biji-bijian lokal.
Saat ini terdapat 10 varian biji-bijian yang diolah, di antaranya kacang hijau, kacang merah, mete, kopi, jagung, melinjo, lebui khas Lombok, almond, kelapa, hingga kacang tanah yang baru dikembangkan belakangan.
“Inspirasi kami justru dari bahan-bahan lokal yang selama ini hanya diolah jadi sayur. Kami ingin membuat sesuatu yang berbeda,” jelasnya.
Inovasi pertama yang dikembangkan adalah kue kering berbahan kacang hijau, dengan tujuan menghadirkan camilan sehat dan bernutrisi bagi anak-anak. Produk tersebut dirancang sebagai bekal sekolah, bekal piknik, atau camilan keluarga yang praktis dan tahan lama.
Menariknya, meskipun tanpa pengawet, kue kering Nutsafir Cookies memiliki masa simpan hingga 16 bulan. Hal ini dicapai melalui proses produksi yang higienis dan pemilihan bahan baku yang tepat.
Lebih dari 13 tahun bertahan di tengah persaingan industri oleh-oleh, Sayuk menegaskan bahwa inovasi berkelanjutan menjadi kunci utama. Setiap dua hingga tiga tahun, Nutsafir Cookies rutin meluncurkan varian baru berdasarkan survei pasar, termasuk melalui media sosial.
“Kami tidak hanya mengikuti keinginan sendiri, tapi benar-benar mendengar maunya pasar,” ujarnya.
Inovasi juga dilakukan pada sisi kemasan dan layanan. Nutsafir Cookies menghadirkan kemasan tenteng praktis, kemasan khusus untuk momen Lebaran, Natal, hingga bingkisan menjenguk orang sakit. Layanan pemesanan pun dibuat mudah melalui WhatsApp, Google Business, hingga marketplace.
Strategi digital tersebut membawa Nutsafir Cookies menjadi Shopee Star Seller, berkat kecepatan respons dan pelayanan yang konsisten.
Dari sisi pemasaran, Nutsafir Cookies telah bekerja sama dengan berbagai toko oleh-oleh di Lombok, retail modern seperti Fresh Market dan Emart, serta sempat hadir di Bandara Bali. Penjualan online melalui Shopee bahkan membuka akses ekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, hingga pengiriman ke Australia dan Selandia Baru.
“Untuk Australia dan Selandia Baru, produk kami bahkan sudah dipajang di toko khusus Asia,” tutur Sayuk.
Saat ini, omset Nutsafir Cookies rata-rata mencapai sekitar Rp200 juta per bulan, dengan margin keuntungan sekitar 20 persen. Pada momen Ramadan dan Lebaran, omset bisa meningkat hingga dua kali lipat.
Namun bagi Sayuk, nilai terbesar dari Nutsafir Cookies bukan semata angka penjualan. Seluruh tim produksi Nutsafir Cookies, yang kini berjumlah 15 orang, adalah perempuan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, termasuk yang tidak memiliki ijazah formal.
“Kami ingin menjadi ‘sekoci’ bagi para perempuan. Mereka mungkin tidak diterima di tempat lain, tapi di sini mereka bisa bekerja dan membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Nilai pemberdayaan perempuan inilah yang mengantarkan Sayuk meraih penghargaan Inspiring Women di Australia. Menurutnya, peran perempuan terbukti menjadi penopang keluarga, terutama di masa sulit seperti pandemi Covid-19.
Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, terutama dari pelaku UMKM rumahan, Sayuk memilih untuk terus beradaptasi. Digital marketing dimanfaatkan secara maksimal, mulai dari Shopee Live, program afiliasi, hingga optimalisasi fitur-fitur e-commerce.
Hasilnya, penjualan online Nutsafir Cookies sempat meningkat hingga 600 persen setelah dikelola secara profesional.
“Dalam dunia usaha, kita tidak boleh cepat berpuas diri. Inovasi dan adaptasi itu kunci,” tutup Sayuk.












