UNW–SQ.id–Heal BUMI Dorong NTB Hijau Lewat Biochar dan Limbah Pertanian

Pojok NTB — Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) bersama Koperasi Senarai Quantum Indonesia (SQ.id) dan Heal BUMI resmi berkolaborasi untuk mendorong pembangunan rendah karbon serta mempercepat transisi menuju net zero di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kolaborasi ini ditandai dengan penyelenggaraan Seminar Series bertajuk “Pembangunan Rendah Karbon dan Akselerasi Transisi Net Zero yang Adil dan Berkelanjutan di NTB” yang digelar secara hybrid di Auditorium UNW, Selasa (20/1).

Seminar perdana mengangkat tema “Kolaborasi Multipihak untuk Pembangunan Rendah Karbon di NTB: Sinergi Akademisi, Pemerintah, dan Swasta”. Rektor UNW, Lalu Gede Syamsul Mujahidin, menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui tridharma kampus.

“Kolaborasi ini adalah wujud nyata kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan triple planetary crisis, khususnya di sektor pertanian dan energi terbarukan,” ujarnya.

Arahan pemerintah daerah disampaikan Gubernur NTB yang diwakili Kepala Dinas ESDM Provinsi NTB, Samsudin. Ia menekankan besarnya potensi NTB dalam pengembangan ekonomi hijau berbasis energi bersih.

“NTB memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor dalam pembangunan rendah karbon, terutama melalui pemanfaatan limbah pertanian menjadi energi terbarukan,” tegas Samsudin.

Dari sisi kebijakan nasional, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas Rahmat Mulianda menyoroti peluang strategis NTB dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, pendekatan ekonomi yang selaras dengan perlindungan lingkungan menjadi kunci pembangunan ke depan.

“Provinsi NTB memiliki peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan terhadap risiko perubahan iklim,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya integrasi aksi iklim ke dalam perencanaan pembangunan daerah melalui inisiatif rendah karbon yang inovatif dan berbasis data.

Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yunirati, menambahkan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan visi NTB Lestari Berkelanjutan dalam RPJMD 2025–2029.

“Kami mendukung penuh kolaborasi konkret yang melibatkan akademisi, bisnis, dan komunitas untuk mencapai target pembangunan hijau di NTB,” ujarnya.

Sementara itu, CEO Heal BUMI Aryo Agung Benardi menyampaikan komitmen perusahaannya dalam membangun ekosistem bisnis hijau yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Kami tidak hanya memproduksi biochar dan pelet biomassa dari limbah sekam padi, tetapi juga menghubungkan petani dengan pasar yang lebih luas, termasuk akses ke perdagangan karbon global melalui platform digital dMRV yang transparan dan terverifikasi,” ungkap Aryo.

Dalam implementasinya, konsorsium akan fokus pada inovasi teknologi pertanian berkelanjutan. Salah satu proyek konkret yang segera dijalankan adalah pembangunan fasilitas produksi biochar dan pemanfaatannya di lahan sawah padi, serta pengolahan limbah pertanian menjadi pelet biomassa sebagai pengganti batu bara. Ditargetkan, pada akhir 2026 pabrik pelet sekam dan biochar tersebut sudah beroperasi penuh.

Kolaborasi ini juga didukung teknologi Digital Measurement, Reporting, and Verification (dMRV) yang dikembangkan oleh Heal BUMI bersama Envmission, guna menjamin transparansi dan integritas perdagangan karbon. Ke depan, seminar series ini akan berlanjut dengan empat sesi lanjutan yang membahas inovasi teknologi, model bisnis hijau, penguatan kelembagaan, hingga roadmap perdagangan karbon dan biodiversity credit di NTB.

Melalui langkah ini, konsorsium UNW, SQ.id, dan Heal BUMI menegaskan komitmennya menjadikan NTB sebagai provinsi percontohan dalam transisi energi dan pertanian berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.