Pojok NTB– Video pernikahan anak usia Sekolah Dasar (SD) yang viral di media sosial TikTok kembali menyeret nama Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi sorotan nasional. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, Mashuri, menegaskan bahwa upaya pencegahan pernikahan dini terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama berbagai pihak.
Mashuri mengaku prihatin setiap kali NTB menjadi perhatian nasional akibat kasus pernikahan anak. Menurutnya, isu tersebut sebenarnya telah lama menjadi fokus penanganan lintas sektor.
“Pernikahan dini ini sudah banyak disuarakan, bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh NGO dan mitra-mitra lainnya. Kami tidak bisa bekerja sendiri, harus berkolaborasi,” ujar Mashuri.
Ia menjelaskan, berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, termasuk pendampingan sosial, edukasi kepada masyarakat, serta keterlibatan lintas kementerian. Bahkan, beberapa waktu lalu, desa di NTB menjadi lokasi kunjungan menteri karena dinilai berhasil menekan angka pernikahan anak.
“Di NTB sebenarnya sudah ada desa-desa yang bebas dari pernikahan anak, seperti Desa Aik Dewa. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan itu berjalan dan ada hasilnya,” katanya.
Meski demikian, Mashuri mengakui bahwa angka pernikahan dini belum bisa ditekan hingga nol. Namun, tren yang terjadi menunjukkan adanya penurunan.
“Kalau dibilang nol, itu belum. Tapi yang pasti ada pengurangan. Itu yang terus kita dorong,” tegasnya.
Mashuri juga mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan pernikahan anak sebagai hal yang lumrah atau konten hiburan di media sosial. Ia menekankan pentingnya peran keluarga, tokoh masyarakat, dan lingkungan dalam melindungi anak-anak agar tetap mendapatkan hak pendidikan dan tumbuh kembang yang layak.
“Anak-anak harus kita lindungi bersama. Ini tanggung jawab kolektif,” pungkasnya













