Pojok NTB – Di sela kunjungannya meninjau program Desa Berdaya di Desa Malaka, Kabupaten Lombok Utara, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menyempatkan diri bertemu langsung dengan warga yang masuk kategori miskin ekstrem. Kunjungan tersebut berlangsung penuh kehangatan dan empati, saat Gubernur duduk berbincang dari hati ke hati bersama warga di rumah sederhana mereka.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) NTB, Yusron Hadi, mengatakan Gubernur secara langsung menanyakan kondisi keluarga, persoalan yang dihadapi, serta harapan warga untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
“Dalam dialog yang santai dan penuh rasa kekeluargaan, Pak Gubernur memberi semangat kepada warga miskin ekstrem bahwa pemerintah hadir untuk mendampingi dan membantu mereka agar bisa keluar dari kondisi sulit,” ujar Yusron.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur menekankan pentingnya perhatian terhadap pendidikan anak-anak dan kelayakan tempat tinggal warga. Ia juga langsung memerintahkan sejumlah kepala dinas terkait yang turut hadir dalam kunjungan itu agar memberikan atensi serius dan tindak lanjut nyata bagi keluarga-keluarga yang ditemui.
Usai berdialog dengan warga, Gubernur bersama rombongan melanjutkan kegiatan dengan berjalan kaki sekitar 200 meter menuju Kantor Desa Malaka.
Yusron mengungkapkan, meskipun Desa Malaka dikenal sebagai desa mandiri dan menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), masih terdapat sekitar 154 warga yang tergolong miskin ekstrem. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh harian lepas.
Untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan, saat ini terdapat tiga pendamping di Desa Malaka yang bertugas membantu warga mengidentifikasi kebutuhan, menyusun langkah pemberdayaan, hingga meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) NTB juga menyalurkan bantuan berupa paket sembako kepada 50 warga lanjut usia sebagai bentuk kepedulian sosial.
Selain itu, Gubernur turut menyoroti keluhan nelayan terkait sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM) karena lokasi yang jauh. Ia mendorong adanya koordinasi antara Pertamina dan Koperasi Merah Putih setempat untuk menghadirkan pom bensin khusus nelayan agar aktivitas melaut masyarakat dapat berjalan lebih lancar.













