Revitalisasi Irigasi Dongkrak Produksi dan Keuntungan Petani NTB

Pojok NTB – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, mengungkapkan adanya lonjakan signifikan produksi pertanian dan peningkatan keuntungan petani setelah pelaksanaan program revitalisasi irigasi dan pompanisasi oleh Pemerintah Provinsi NTB. Program tersebut dinilai memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian di daerah.

Hal itu disampaikan Gubernur dalam sambutannya pada acara Tasyakuran Swasembada Pangan Tingkat Provinsi NTB yang digelar di Desa Banyu Urip, Kabupaten Lombok Barat, Rabu (7/1).

“Alhamdulillah, dampaknya sangat nyata. Lahan yang sebelumnya hanya bisa panen satu kali, kini bisa dua kali, bahkan di beberapa tempat sudah bisa panen hingga tiga kali dalam setahun. Ini baru pertama kali terjadi setelah lebih dari 15 tahun,” ujar Gubernur.

Selain peningkatan produktivitas, Gubernur juga menyoroti kebijakan Presiden Republik Indonesia terkait penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Menurutnya, angka tersebut merupakan HPP tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

“Sepanjang sejarah, belum pernah HPP ditetapkan setinggi ini. Sebelumnya, harga gabah sering berada di kisaran Rp4.500 hingga Rp5.000, yang tentu memberatkan petani. Dengan HPP Rp6.500, petani kini memiliki kepastian harga dan keuntungan yang lebih layak,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur memaparkan capaian Nilai Tukar Petani (NTP) NTB yang menunjukkan tren positif. Pada tahun 2024, NTP tercatat sebesar 123, yang berarti petani memperoleh keuntungan sekitar 23 persen dari modal yang dikeluarkan.

“Perkembangannya terus meningkat. Pada pertengahan 2025, NTP naik menjadi 128, dan di akhir tahun kembali meningkat menjadi 131. Artinya, dari modal 100, petani bisa memperoleh hasil sekitar 131. Kenaikan ini terjadi karena biaya produksi yang semakin menurun,” pungkasnya.

Acara tersebut turut dihadiri Kapolda NTB Irjen Pol. Edy Murbowo, Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Moch. Sjasul Arif, Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha, Asisten Bidang Administrasi Umum Eva Dewiyani, Kepala Desa Banyu Urip, serta para penyuluh pertanian dan kelompok tani setempat.