Buku Adat “Olek Bale” Resmi Diluncurkan di Sukadana, Penguat Identitas dan Warisan Sasak

Pojok NTB – Sekolah Adat Rengganis menggelar peluncuran buku adat berbahasa ibu berjudul “Olek Bale”, sebuah karya dokumentatif yang memuat nilai, tutur, serta praktik kearifan lokal masyarakat Sasak. Acara digelar di Sekolah Adat Rengganis, Desa Sukadana, Dusun Pogem, Lombok Tengah, dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Peluncuran ini dihadiri oleh berbagai pemangku kebijakan, antara lain Kabid Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTB, Kepala Dinas Perpustakaan Lombok Tengah, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Kepala Desa Sukadana, serta sejumlah tokoh adat dan tokoh agama dari wilayah sekitar.

Buku “Olek Bale” merupakan hasil kolaborasi antara tim penulis, para kontributor, dan narasumber utama H. Lalu Yakum, seorang tokoh adat yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai tradisi, tata cara, dan filosofi masyarakat Sasak. Kontribusi berbagai pihak membuat buku ini tidak hanya kaya perspektif, tetapi juga akurat dalam memotret praktik adat yang masih dijalankan hingga kini.

Tim penulis dan kontributor — Juanada Prama Dani, Hana Pratiwi, Yuliana, dan Fathul Hadi — turut hadir dan berbagi cerita mengenai proses penyusunan buku, tantangan dokumentasi adat, serta harapan agar karya ini menjadi rujukan penting bagi generasi muda.

Para pejabat dan tokoh masyarakat yang hadir menegaskan bahwa kehadiran “Olek Bale” bukan sekadar tambahan literasi, tetapi langkah strategis untuk menjaga memori kolektif dan memperkuat identitas budaya lokal. Buku ini diharapkan menjadi bahan ajar, referensi budaya, serta penguat karakter masyarakat Sasak.

Acara berlangsung dengan format lesehan adat, dilengkapi hidangan tradisional sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Peserta juga berdiskusi mengenai pentingnya literasi budaya dalam pembangunan desa dan pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal.

Peluncuran “Olek Bale” menjadi momentum penting bagi Desa Sukadana dan Sekolah Adat Rengganis untuk terus menjaga tradisi, sekaligus membuka ruang kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam pelestarian budaya Sasak.