Arah Industrialisasi NTB Gemilang: Memperkuat Fungsi Koperasi, BUMDES dan UKM

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Astar Hadi

Oleh: Astar Hadi (Staf Khusus Gubernur NTB)

Perjalanan kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah  Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zulrohmi) sudah berlangsung hampir satu tahun. Sejumlah terobosan baru dilakukan. Khususnya di bidang pembangunan manusia (SDM) dengan mengirim pemuda-pemuda NTB belajar di luar negeri secara cukup massif merupakan loncatan yang terbilang berhasil dan membanggakan.

Zulrohmi menghadirkan sebuah oase baru kebijakan dengan tujuan jangka panjang bagi regenerasi SDM NTB yang mumpuni di masa depan. Tentu ini menjadi ancang-ancang NTB menghadapi geliat globalisasi dan percepatan informasi (information superhighway) yang semakin membutuhkan pemikir dan teknokrat yang mampu bertarung dengan kehendak industrialisasi yang semakin mendominasi di berbagai belahan dunia.
Ada kesinambungan estafet antara apa yang dilakukan gubernur pendahulu dengan konsep percepatan pembangunannya selama 10 tahun terakhir yang terbilang cukup signifikan mengubah wajah NTB menjadi daerah yang semakin cantik secara fisik dan semakin dikenal oleh dunia luar. Bahwa gerak percepatan pembangunan dan pemberdayaan SDM (Zulrohmi) adalah mata rantai yang saling terhubung untuk membangun keseimbangan yang simbiosistik antara yang bersifat fisik dan non fisik.

Dalam konteks percepatan, melalui infrastrukturisasi sektor ekonomi-pariwisata, NTB sudah menunjukkan progress positif sebagai daerah ikonik pariwisata yang notabene mampu bersaing dengan Bali yang jauh lebih dulu menjadi primadona bagi wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Ke depan, bukan hal yang mustahil jika Pulau Seribu Masjid menjadi daerah terdepan yang mampu menawarkan tidak saja pesona wisata dan budaya, tapi juga unggul dalam geliat ekonomi kreatif bagi kesejahteraan masyarakat NTB. Pun, kehadiran KEK Mandalika, rencana pembangunan sirkuit MotoGP, sangat berpotensi memberi stimulus bagi kreasi multitasking dan eksternalitas positif ekonomi warga yang, tentu saja, membutuhkan tangan-tangan terampil dan SDM mumpuni.

Dan, secara progresif, langkah kebijakan NTB Gemilang yang menjadi jargon rezim Zulrohmi, sudah mulai memberi sinyal yang baik dengan mengarusutamakan beasiswa belajar ke mancanegara sebagai tanaman pohon masa depan di awal pemerintahannya.

Spirit ini pernah dikumandangkan sahabat Rasulullah SAW, Ali Bin Abu Thalib. Beliau mengatakan, jika saja akhir dari kehidupan di depanku, dalam hitungan lima belas kaki sedang aku masih memiliki kesempatan sekadar menanam biji kurma untuk masa depan anak-anakku, maka aku pun akan menanamnya sehingga kehidupan itupun menghampiriku.

Dalam bahasa yang lain, Gubernur menyampaikan dalam banyak kesempatan bahwa, a journey of thousand miles, should be started by single step, bahwa setiap jalan panjang selalu dimulai dengan langkah pertama.
Ya. NTB sedang melakukan pembenahan kembali (recovery) setelah diguncang gempa yang cukup panjang di akhir Era TGB dan dan di awal kepemimpinan Zulrohmi.

Hampir semua sektor, khususnya sektor pariwisata yang menjadi ikon dan bersifat multiplier bagi eksternalitas positif sektor ekonomi lain mengalami mati suri. NTB butuh waktu mengembalikan dan menggemilangkan semua sektor pembangunan yang ada. Solusi yang paling realistis dan prospektif adalah industrialisasi sektor produksi (industrialization based production/economic).

Metanarasi Industrialisasi Menuju NTB Gemilang

Industrialiasasi dalam konteks kebijakan pembangunan NTB tidak menyangkut sebuah fase sejarah dari masa menanam (agraria) menuju tahapan modernisasi. Ia merupakan langkah kombinatif pengelolaan/pengolahan produksi pertanian, kerajinan tangan (handycraft), produksi barang dan jasa yang tak dilakukan dengan teknik-teknik manual. Ia juga sebuah penggabungan mekanis dan digital terhadap usaha-usaha produktif dan ekonomi kreatif masyarakat melalui pemanfaatan teknik informasi-komunikasi digital. Dalam pengertian inilah metanarasi industrialisasi dipahami.

Lanskap industrialisasi di Era Revolusi Digital yang bersifat multitasking alias adanya mata rantai mulai dari proses produksi, distribusi dan konsumsi yang menghubungkan ketiganya dalam hubungan produktif yang, mau tak mau, akan melibatkan banyak unsur lain yang saling mendukung. Seperti misalnya produksi pertanian, pada kondisi tertentu, akan berkaitpaut dengan teknologi komunikasi dalam hal promosi dan juga pariswisata dalam hal wisata desa dengan segala aspeknya.

Guratan kerja-kerja ini tentu saja harus ditopang oleh teknologisasi sebagai aspek penting dalam mekanisme kerja dunia industry. Antara satu usaha dengan usaha lainnya mensyaratkan teknologi yang tidak saja tepat guna, tapi juga tepat sasaran dan waktu.
Sementara itu, sebagai sebuah kebijakan, tujuan menghadirkan industrialisasi ini bersifat publik dengan tujuan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

Tidak heran jika Gubernur NTB sangat menekankan hadirnya industrialisasi ini sebagai skema kebijakan yang dari hulu sampai hilir harus tertata rapi. Artinya, semua kerja-kerja produktif dalam berbagai bidang diupayakan untuk segala prosesnya dilakukan dengan menyiapkan pengolahan produksi pertanian dan lainnya dilakukan hingga menjadi barang jadi.

Dalam Kuliah Umum dan Diskusi Penyusunan Roadmap Industrialisasi NTB, di Aula Bappeda Provinsi NTB (16/42019) yang lalu, Gubernur menguraikan bahwa industrialisasi sebagai proses besar untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat ke depan. Dikatakannya, bahwa dengan adanya industrialisasi, proses pengolahan produk seperti pertanian, peternakan, perikanan dan kerajinan tidak lagi berhenti hanya sebagai barang mentah.

Lebih jauh, ia harus melalui proses industri sehingga menjadi bahan jadi dengan berbagai jenis produk yang siap dipasarkan.  Dua tahun ke depan, kita tidak lagi jual jagung atau gabah ke luar daerah tapi akan punya pabrik penggilingan padi di sini, begitu juga rumput laut, tegas Doktor Zul.

Tentu mimpi besar NTB Gemilang yang diprakarsai kabinet Zulrohmi dalam upaya industrialisasi ini tak akan semudah membalik telapak tangan jika tidak diikuti iklim pemerintahan yang baik (good governance). Prasyarat utamanya dengan menitikberatkan keterlibatan dan dukungan masyarakat luas sembari menghadirkan system birokrasi rasional, efektif dan kemudahan perizinan usaha/investasi serta bersahabat dengan iklim usaha potensial lokal yang berpihak rakyat.

Kemandirian berproduksi melalui kebijakan industrialiasasi yang berpihak rakyat berarti sebuah upaya menghidupkan giat ekonomi-teknologi berlatar usaha kecil menengah (UKM), koperasi dan pengelolaan BUMDES yang kreatif-produktif yang berdampingan saling mengisi/menguntungkan dengan megaproyek KEK Mandalika, MotoGP dan proyek-proyek nasional lainnya yang saat ini mencumbui NTB. Pada titik inilah estafet percepatan pembangunan menuju Visi NTB Gemilang akan tampak tidak berat sebelah dan saling menguntungkan bagi kesejahteraan rakyat di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *