Wujudkan NTB Gemilang, DP3AP2KB Gencar Sosialisasikan Sekolah Ramah Anak

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mataram- Upaya praktis menerjemahkan visi misi Gubernur NTB di bawah kepemimpinan Zul-Rohmi, terus dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTB. Hal ini sebagai upaya mewujudkan NTB Gemilang.

Salah satu ikhtiar yang dilakukan ialah dengan terus menerus mensosialisasikan keberadaan Sekolah Ramah Anak (SRA). Seperti yang dilakukan di SMAN 1 Mataram, Selasa, (15/1/2019). Sekolah ini diprospek jadi percontohan Sekolah Ramah Anak tingkat provinsi.

Kepala Dinas DP3AP2KB Provinsi NTB, Drs. H. Imhal, menjelaskan bahwa Sekolah Ramah Anak merupakan sekolah yang aman, bersih, Sehat, hijau, inklusif, dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi, dan psikososial anak perempuan dan anak laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan atau pendidikan layanan khusus.

Dengan adanya Sekolah Ramah Anak diharapkan mampu membawa lingkungan sekolah menjadi aman, membantu lingkungannya menjadi baik, saling mengharga, sehingga jadi sekolah yang siswanya mampu meningkatkan prestasinya.

Selain itu, keberadaan SRA juga tidak terpisah dan menjadi bagian dari Kabupaten Kota Layak Anak (KLA). Terwujudnya SR adalah salah satu indikator capaian dari terwujudnya KLA.  Diharapkan bahwa adanya SRA kian mendukung para siswa dalam meraih prestasi di dalam semua bidang.

“Sekolah aman adalah indikator pelaksanaan program sukses,” ungkapnya.

Pihaknya kedepan ingin agar semua sekolah di NTB meningkat menjadi Sekolah Ramah Anak. Karena Komitmen pada terwujudnya SRA berarti pula upaya menekan tingkat kekerasan anak di sekolah.

Selama ini kekerasan di lingkungan sekolah memang ada namun tidak terlalu besar, sehingga mampu diselesaikan oleh pihak sekolah. Namun demikian, tidak boleh terulang lagi di masa mendatang. Selain mensosialisasikan SRA, pada selanjutnya juga akan dibentuk Forum Sahabat Anak.

Kepala SMAN 1 Mataram, H. Jauhari, menyambut baik dijadikannya Smansa sebagai sekolah percontohan. Diungkapkan Jauhari, pada dasarnya pihaknya setuju dengan konsep SRA. Bahkan SRA di tempat itu telah berjalan sehingga tinggal pengembangannya saja.

“Secara praktik Amanda sudah menjalankan sekolah ramah anak. Pendidikan karakter juga hampir sama dengan sekolah ramah anak. Tinggal slogan dan alur pengaduan siswa,” jelasnya. Pihaknya mempersiapkan guru agar guru memahami apa SRA, baru kemudian ke siswa.

“Kami tinggal tingkatkan,” urainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *