MEREKA JUGA BUTUH BANTUAN

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LOMBOK BARAT, POJOKNTB.COM- Gempa bumi berkekuatan 7,0 skala richter yang memporak porandakan Pulau Lombok Ahad (5/08) telah mengakibatkan kesedihan dan kepiluan bagi para pengungsi. Mereka tidak hanya kehilangan harta benda dan rumah, namun sebagian lainnya bahkan kehilangan sanak familinya. Di Lombok Barat (Lobar) setidaknya telah tercatat 23 orang meninggal dunia, seakan melengkapi besarnya jumlah korban di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Lombok Timur, dan Kota Mataram. Data terakhir, lebih dari seratus jiwa melayang akibat gempa tersebut dan terbanyak di KLU.

Salah seorang pengungsi di Posko Pengungsian Kecamatan Gunung Sari mengaku rumahnya hancur dan rata dengan tanah.

Ia beserta anak istrinya memilih mengungsi bersama di Lapangan, persisnya belakang Kantor Camat Gunung Sari.

Pengungsi yang bernama Mariadi itu mengatakan sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah dan donatur.

Meski ia mengaku telah medapatkan bantuan berupa beras, telur dan air minum, namun ia merasa masih kekurangan berupa obat-obatan, tenda, selimut serta popok dan susu untuk bayinya.

Tenda berukuran 8×3 meter ditempati Mariadi beserta 40 orang lainnya, termasuk10 anak-anak dan beberapa orang lanjut usia.

Ia sangat tahu bahwa kapasitas tenda yang ia tempati melebihi kapasitas normal. Meski tidur berdesakan dan terdera dingin saat malam hari, namun Mariadi tetep memilih tinggal di pengungsian.

Mariadi bersama ribuan pengungsi masih diguncang trauma yang sangat.

“Jangankan gempa, mobil lewat saja membuat kami khawatir,” akunya memelas.

Mereka pun hanya bisa menuggu uluran tangan yang membantu mereka melepaskan dingin, haus, dan lapar.

Mariadi juga menuturkan, ibu -ibu yang sedang menyusi banyak ia temukan di pengungsian. Seperti kondisi dirinya, mereka pun tidak mungkin pulang. Rata-rata rumahnya rusak akibat gempa dan tidak mungkin mereka tempati lagi.

Saat ini ia hanya berharap agar pemerintah lebih memperhatikan kesehatan ibu-ibu yang sedang menyusui tersebut. Menurut Mariadi, dengan kesehatan yang baik dan jauh dari ketakutan, maka para ibu-ibu tersebut dapat memberikan air susu dengan kualitas baik kepada bayinya.

“Kami mohon kepada pemerintah, supaya ibu-ibu di sini yang menyusui diperhatikan kesehatanya, supaya air asi dari ibunya baik untuk anaknya,” cetus Mariadi.

Di tempat yang sama, Amaq Zainudin juga menyatakan hal serupa. Saat ini ia masih trauma dengan gempa tersebut. Kondisi rumahnya rusak parah dan barang-barang berharga miliknya tidak bisa diselamatkan lagi.

Seperti Mariadi, ia pun lebih memilih mengungsi di lapangan beserta keluarganya.

Amaq Zainudin mengaku berada di pengungsian selama 4 hari dan sampai saat ini ia masih merasa ketakutan.

Amaq Zainudin pun mengutarakan harapannya kepada pemerintah agar dapat membantu bebannya yang ia hadapi saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *