L. Muh Zohri; Kurang Mampu dan Miliki Rumah Kumuh, Namun Berprestasi

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kondisi rumah kumuh milik L. Muh Zohri

LOMBOK UTARA, POJOKNTB.COM– Sebuah prestasi tidak lahir dari latar belakang keluarga, kaya atau kurang mampu. Tetapi lahir dari sebuah proses dan perjuangan. Pelajaran itulah yang dapat dipetik dari keberadaan sosok atlet atletik nasional, Lalu Muhammad Zohri, asal dusun Karang Pangsor, desa Pemenang Barat, kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

ZOHRI lahir dari bakat alam. Ibarat mata pisau, dengan sedikit diasah, memperlihatkan ketajamannya. Di satu even Kejurnas mewakili NTB, Zohri seorang diri menyumbangkan 8 medali sekaligus. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa. Apalagi di tingkat internasional, dalam 2 kali even di Singapura dan Thailand, Zohri mampu menyumbang perak untuk Indonesia.

Nama Zohri dapat dikatakan mengikuti jejak pendahulunya, Sudirman Hadi atlet nasional asal Pemenang Barat yang lebih dulu ditarik Pelatnas. Sayangnya, Sudirman belum mampu membawa pulang medali saat turun di even Olimpiade Brazil beberapa tahun lalu. Meski demikian, baik Sudirman Hadi dan M. Zohri, patut menjadi inpsirasi bagi anak-anak muda usia sekolah khususnya di KLU.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Zohri berstatus Yatim Piatu. Semasa Sekolah Dasar, ibunya, Inaq Saerah, meninggal dunia. Sedangkan Ayahnya, L. Ahmad, menyusul meninggalkan Zohri pada Agustus 2017 lalu.

Zohri lahir dan dibesarkan dari keluarga kurang mampu. Itu tergambar jelas dari jejak kediaman orang tuanya di dusun Karang Pangsor, saat Suara NTB tandang ke kediaman Zohri, Minggu (10/6). Tempat tinggal Ahmad Saerah sekeluarga cukup sederhana. Sebuah rumah berdiri di atas pondasi seukuran 6×4 m, dengan 1,5 meter di depannya sebagai emperan.

Mengacu pada kriteria pemerintah, maka rumah keluarga Zohri dapat dikatakan kumuh. Pasalnya, lantai semen tetapi sudah rusak. Dindingnya bambu dan sebagian kayu/papan. Sedangkan atapnya, dari genteng tanah liat yang sudah lapuk. Dari dalam, terlihat jelas matahari dengan mudahnya masuk dari celah dinding bambu.

Pekerjaan orang tua Zohri sebagai nelayan. Kadang mengerjakan sawah orang lain dengan sistem bagi hasil, ungkap Fatoni, keluarga Zohri mengenang pekerjaan almarhum L. Ahmad.

Ditinggal seorang ibu kandung, cukup berat bagi Zohri dan kedua kakaknya. Sebagai anak bungsu, Zohri lebih banyak mendapat perhatian dari kakak sulung perempuan, Baiq Fazilah. Namun tidak semua waktu bisa dihabiskan bersama. Karena saat kedua kakaknya menikah, Zohri harus terbiasa tinggal bersama ayahnya sampai tamat kelas 3 SMP momen dimana ia dijemput PPLP NTB. Apalagi Zohri juga kerap ditinggal bekerja ke Gili Trawangan oleh kedua kakaknya.

Saya dan Fazilah bekerja di Trawangan, dari Senin sampai Sabtu di sana, hari Minggu baru balik ke darat. Jadinya rumah ini sering kosong, kenang L. Marif, kakak kandung Zohri.

Marif yang telah berkeluarga, memang memiliki rumah yang cukup bagus untuk ditinggali Zohri dan almarhum ayahnya semasih hidup. Tetapi Zohri, lebih memilih mendiami rumah bambu bersama ayahnya.

Fatoni pernah menjabat sebagai Kepala Dusun Karang Pangsor. Dizamannya, kediaman Zohri telah diupayakan dibantu melalui program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Tetapi sampai hari ini, bantuan belum kunjung turun.

Saya menjabat sebagai kepala dusun sampai tahun 2014, saat itu saya usulkan dibantu kilometer listrik. Alhamdulillah Karang Pangsor dapat 4 unit, dan satunya saya berikan kepada Ahmad (almarhum), kenang mantan Kadus.

Sedangkan proposal rumah kumuh belum mendapat respon dari pemerintah. Bahkan Kadus baru yang menjabat pun mengusulkan hal serupa. Fatoni dan kedua saudara kandung Zohri sempat khawatir, kondisi yang memprihatinkan akan menyebabkan Zohri putus sekolah. Apalagi saat duduk di bangku SMP, Zohri pernah sekali tidak naik kelas.

“Harapan kami, prestasi seperti sekarang ini dipertahankan. Dan kepada pemerintah kami sekeluarga berharap agar Zohri diberikan perhatian untuk masa depannnya. Sebisa mungkin, dia tidak kami izinkan menikah sebelum selesai kuliah dan mendapat pekerjaan, pungkas Marif.

Sumber: Suara NTB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *