Siswa NTB Kini Tak Takut Matematika

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Poto bersama usai pembukaan ELPSA Conference II 2018 di hotel Aruna, Senggigi, Lobar

MATARAM, POJOKNTB– Pemerintah Australia melalui University of Canberra bekerjasama dengan pemerintah Provinsi NTB melalui IKIP Mataram telah mengembangkan model pembelajaran bagi para guru matematika di NTB.

Hasil kerjasama yang telah berjalan selama empat tahun menunjukkan bahwa para guru matematika mulai lebih terampil dan kreatif memberikan materi di kelas. Sehingga berdampak pada para siswa SMP/MTS di seluruh NTB yang kini tidak takut lagi terhadap mata pelajaran matematika melalui program ELPSA (Experience, Languages, Pictures, Symbols, Application).

Dalam kegiatan ELPSA Conefrence II 2018 dengan “Memperkaya Literasi Matematika dan Pedagogi Guru Melalui Refleksi, Inovasi, dan Teknologi”, Mantan Rektor IKIP Mataram Prof. Toho Cholik Mutohir, MA., Ph.D., mengemukakan saat ini banyak kemajuan signifikan dalam proses dan capaian pelaksanaan proyek ELPSA di NTB.

Hal ini terlihat dari adanya perubahan sikap, perubahan nilai akademik guru dan dosen matematika. Sekarang mereka jauh lebih percaya diri, baik ketika tampil di kelas, dan tampil di seminar-seminar. Ini juga berdampak pada persepsi siswa. Mereka kini menilai matematika tidak takut dengan mata pelajaran matematika.

“Ini tidak sekedar penelitian, ini ada perubahan terhadap guru. Dan berdampak juga pada para murid,” ujarnya.

Pengembangan model pembelajaran ELPSA didasarkan pada kebutuhan lokal peserta didik setempat. Selain itu, pendekatan yang digunakan juga diintegrasikan dengan Kurikulum 2013. Sehingga kini mereka sudah tidak menganggap matematika sebagai momok.

Sementara Prof. Thomas Lowrie selaku Ketua Tim Peneliti di SERC University of Canberra, menyebut pelaksanaan conference ELPSA I lebih bersifat teoritis. Sedang conference ELPSA II lebih ke arah pengembangan pedagogi. Dimana para guru menunjukkan kualitas mengajarnya.

Thomas Lowrie menyebut, tujuan awal proyek ini ialah agar sebanyak mungkin guru dan siswa SMP yang terlibat, sehingga mampu mengembangkannya ke tingkat SD. Sementara untuk pelaksanaan ELPSA di jenjang SMA, belum berencana, karena telat bagi mereka belajar ELPSA.

“Karena ketika membangun matematika dari SMP dan SD akan sangat mudah di banding SMA,” ujarnya seraya menunjukkan hasil riset internasional bahwa siswa SD di Indonesia .membutuhkan banyak dukungan untuk belajar matematika.

“Matematika mapel sulit dan banyak tidak percaya diri. Jika siswa tidak percaya diri sulit bagi siswa untuk mengembangkan diri. Matematika harus ditampilkan agar bersahabat ke siswa,” pungkasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *