Momentum “May Day”, Buruh Dihimbau Rubah Paradigma

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Sumber goegle

MATARAM, POJOKNTB- Hari Buruh Internasional yang jatuh setiap tanggal 1 Mei harus dijadikan momentum perubahan bagi para buruh. Perayaan Hari Buruh Internasional atau “May Day” yang selama ini identik dengan aksi demonstrasi turun ke jalan, harus dijadikan momen penting bagi buruh untuk merubah paradigma dan orientasi.

Kepala Bidang Ketenagakerjaan, Disnakertrans NTB, Nasip, M.Pd., menilai bukan jamannya lagi buruh tiap kali memperingati Hari Buruh Internasional, diperingati dengan cara menggelar aksi demonstrasi. Menurutnya, demonstrasi kurang tepat dilakukan, terlebih kini pandangan di tengah masyarakat para pendemo selalu dikaitkan dengan stigma negatif.

Oleh karena itu, pihaknya lebih setuju jika Hari Buruh Internasional lebih dijadikan momentum merubah orientasi dan paradigma buruh. Sehingga citra pergerakan buruh menjadi lebih positif. Bila dibandingkan dengan berdemonstrasi sebagaimana yang kerap dilakukan tiap tahun.

Misalnya saja, para buruh dengan momentum itu dijadikan hari penting untuk merubah orientasi atau mental buruh ke mental berwirausaha. Sehingga yang ada ialah, semangat buruh naik kelas dari hanya sekedar buruh, menjadi pengusaha.

Pihaknya pun mendorong agar para buruh merubah orientasi tidak sekedar menjadi buruh, melainkan harus menjadi pengusaha. Karena dengan menjadi seorang pengusaha, mereka dapat menentukan gaji mereka sendiri. Hal itu berbeda jika dengan menjadi buruh.

“Kasian buruh demo demo terus untuk minta naik gaji. Jangan jadi pendemo. Sekarang pendemo ini jelek matanya di masyarakat,” urainya seraya menyebut, syarat lain yang harus dimiliki seorang buruh yang ingin turun berwirausaha ialah harus kreatif. Karena dengan kreatifitas, dapat meningkatkan harga jual barang.

Dia mencontohkan, pengusaha asal Jepang yang hanya punya sebatang bambu sebagai modal awal dalam berbisnis. Akan tetapi karena dia ingin jadi pebisnis, lalu membuat penusuk gigi yang harganya luar biasa.

“Nah, dia suskes karna dia memiliki tekad. Busnis bisa dimulai dari dimulai dari yang baru aau mengembangkan yang sudah ada. Maka dari itu mental pekerja itu penting, skarang pemerintah mendorong mental pengusaha bukan pekerja,” ungkapnya.

Kreatifitas dalam berwirausaha itu sangat penting. Seperti halnya ubi yang murah saja, jika diolah menjadi olahan yang enak, maka akan memiliki nilai jual yang tinggi. Oleh karena itu, kalau ada niat untuk bekerja, lebih baik jalankan usaha sendiri.

“Apapun yang kita bisnis di Kota Mataram ini, jalan saja, jangan pilih jadi buruh atau pekerja. Sekarang pemerintah sudah menyediakan pinjaman di bank dalam bentuk modal usaha, tinggal buat akte notaris, dan izin operasional dan sebagainya,” tukasnya.

Sementara itu, pengamat sosial Universitas Mataram, Oryza Pneumatica Indrasari, S.Sos., M.Sos., menilai dampak psikologis hari buruh akan meresahkan masyarakat umum jika diperingati dengan cara berdemonstrasi. Karena aksi demo yang digelar rutin tiap tahun berdampak pada penutupan akses jalan. Yang berakibat gangguan bagi pengguna jalan lainnya.

“Kekhawatiran menjadi pengguna jalan bila bertemu dengan pendemo yang nampak meluapkan emosi. Bahkan nampak ada trauma pada anak-anak kecil yang dibawa orangtuanya saat mengikuti aksi unjuk rasa  di jalanan. Sehingga penilaian untuk yang tidak berkepentingan, hari buruh dapat diingat sebagai hari yang mencemaskan,” ujar Oryza.

Di satu sisi, Oryza menilai bahwa demonstrasi yang digelar memang dapat dimaklumi, mengingat relasi sosial yang dibangun antara buruh dan majikan terkadang bersifat eksploitatif. Hal ini nampaknya memang terjadi sehingga tuntutan buruh atas kehidupannya yang belum sejahtera menjadi perjuangan kelompok buruh.

“Nampaknya wajar bila hak belum terpenuhi sementara kewajiban terus bertambah maka ketimpangan itu akan mendatangkan ketertindasan,” ungkapnya menjelaskan.

Melihat situasi seperti itu, pemerintah harus memainkan peran yang seimbang baik bagi perusahaan maupun bagi pekerjanya. Pemerintah harus melindungi dan membela hak-hak buruh. Sehingga dapat memberikan jaminan ketenangan bagi buruh untuk kesejahteraan hidupnya.

“Jangan sampai ketidaksejahteraan buruh akan menimbulkan gejolak sosial dan harga politik yang tinggi sehingga pada akhirnya harus dibayar oleh seluruh komponen bangsa ini”.

Meski demikian, pemerintah bukan hanya sebagai pemain tunggal. Pemeran utama dalam kesejahteraan buruh justru ada pada perusahaan atau majikan. Hubungan kerja sama atau kemitraan dan tolong menolong memposisikan buruh tidak hanya dilihat sebagai lawan oleh majikan, juga sebaliknya majikan dilihat sebagai lawan dari sudut pandang buruh. Kuncinya adalah membangun hubungan kerjasama yang egaliter. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *