JMM Angkat Persoalan Pendidikan dan Buruh

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MATARAM, POJOKNTB- Dalam dunia profesional atau pekerjaan, hal utama yang paling dicari ialah mereka yang ahli dalam bidang-bidang tertentu dan bersifat praktis seperti teknologi, di samping tentu ialah penguasaan bahasa asing sebagai aspek penting berikutnya.

Untuk itu, dunia pendidikan harus diarahkan kepada peserta didiknya menguasai dua tersebut sebagai standar kualitas pendidikan era milenial saat ini. Demikian disampaikan Akademisi Unram Ahmad Zuhairi, SH., MH., saat mengisi seminar memperingati hari pendidikan nasional dan hari buruh, yang digelar Jaringan Masyarakat Madani (JMM), di aula KNPI NTB, Kamis (26/4).

Terlebih kata Zuhairi, sekarang telah memasuki era MEA, maka mau tidak mau harus bisa menguasai bahasa asing. Bahkan sekarang ini untuk masuk di perguruan tinggi seperti Unram, harus punya 450 skor minimal toefl. Begitupun saat keluar kampus pada saat hendak ujian.

“Kemudian, mahir teknologi. Itu merupakan standar kompetensi dasar manusia hari ini,” urainya.

Begitu juga pada saat ingin mendaftarkan diri meraih beasiswa LPDP untuk tujuan kampus luar negeri. Maka syarat utamanya ialah mampu berbahasa asing.

“LPDP itu punya dana yang banyak. Tapi banyak yang kosong karena belum memenuhi syarat penerimaannya. Dan kuncinya hanya satu, bahasa asing. Anda  cukup punya skor teofl 550, anda lolos, sederhana saja.  Jadi beasiswa ini banyak sekali,” jelasnya.

Dengan adanya kualitas sumber daya manusia yanh memenuhi kualifikasi, maka juga berkaitan erat dengan dunia pekerjaan. Namun kini, kualifikasi hasil pendidikan rata-rata masih rendah, sehingga posisi pekerjaan yang diraih sebanding dengan tingkat kaulifikasi pendidikan.

Sementara itu, Agi Abdul Aziz, Direktur JMM NTB menilai prntingnya generasi saat ini meningkatkan daya saing. Salah satunya melalui aktivitas membaca buku, diskusi dan lain lain.

Mengingat yang menjadi masalah juga ialah, mahasiswa yang memiliki IPK tinggi, bahkan cumlaude, tapi di dunia realitas, mereka tidak kompeten. Jurusan bahasa inggris banyak yang tidak bisa bahasa inggris. Akuntansi tidak bisa menghitung keuangan, lulusan hukum tidak bisa menelisik kasus.

“Itu problem kita, banyak lulusan yang cumlaude tidak kompeten dibidangnya di dunia nyata. Sekarang yang menjadi standar penerimaan kerja itu kompetensi bukan IPK,” urainya.

Oleh sebab itu, adanya seminar memperingati Hardiknas yang dirangkai dengan hari buruh ini memiliki korelasi antara kompetensi pendidikan yang dihasilkan dengan dunia pekerjaan yang mereka raih. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *