Jalan Tengah Perjuangan Muslimah Indonesia

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Oleh : Mutya Gustina

(Kandidat Ketua Umum Kohati PB HMI Periode 2018-2020).

Jalan tengah bukan sebuah pilihan kepasrahan maupun netralitas sebuah sikap dan tindakan. Barangkali posisi itu setidaknya memberikan gambarah posisi gerakan kanan maupun kini terlanjur ke arah ekstrem. Posisi jalan tengah juga bukan jalan tanpa tantangan, kelompok di garis ini sering mendapat serangan justifikasi pendukung moderenitas mutlak dan dianggap lebih dekat dengan faham liberalisme. Memposisikan gerakan jalan tengah seoalah mendamaikan ketegangan tajam antara mereka yang berbenturan gerakan pemikirannya dengan golongan yang sama sekali mengambil jarak.

Perjuangan perempuan dapat dipetakan dalam dua kutub tadi. Di kutub kanan mereka yang tergabung dalam masyarakat yang lebih tertarik menerima kontekstual keperempuanan yang maju dan moderen. Mereka bukan saja aktif bersuara tetapi mampu menyuarakan pendapatnya di muka umum. Terlebih lagi, gema media sosial membuka ruang ketidakmungkinan itu menjadi keterbuakaan yang memberikan preferenesi dan pretensi untuk mengemuka. Di tataran perkembangan mode, geliat dunia keperempuanan sangat subur. Gaya dan trend disokong oleh kemasan iklan dan pasar semakin membuka cakrawala ide dan konsep kreasi untuk perempuan. Secara budaya, ekpresi perempuan lebih terlihat percaya diri bahkan di wilayah publik tak sungkan untuk beradu gagasan.

Variasi gerakan kutub kanan tidak banyak dilabeli oleh perangkat ideologi keras. Karena mayoritas sikap di kutub kanan lebih menerima gejala sosial dan globalisasi tanpa harus mengisi maknanya. Mereka melakukannya sebagaimana tingkat perubahan sosial dan ekonomi terutama di iklimi negara demokrasi menggiring ke arah yang lebih terbuka.  Globalisasi sebagai konsep terapan dari liberalisme tidak banyak menjelaskan diktat dan aturan pokok kondisi masyarakat dan nilai-nilai yang diharapkannya selain individualisme yang pada kenyataannya, realitas masyarakat kita cenderng ragu-ragu menolaknya.

Dalam kondisi yang serba economical trought hanya ada satu asas bagaimana mendapatkan peluang. Menjadi muslimah di situasi ini perlu dipikirkan baik-baik, terlebih lagi bagaimana kemudian merespresentasikan Islam dalam raga pribadinya. Jika dibandiingkan dengan paradigma pemikiran kelompok kiri yang cenderung responsif dan mengarah kepada aksi reaktif serta bertolak dari teks. Mereka hanya mempersepsikan muslimah sebagaimana kesadaran kodratiah dan tidak banyak melakukan reinterpretasi sosial dan mengembalikan lagi kepada arti tekstual.

Kedua kutub sama-sama memilki kekurangan dalam situasi yang mereka pandang  perlu dalam menjadi kebiasan atau perlu dikoreksi. Problematika menjadi muslimah masa kini ialah berusaha menjelaskan seberapa penting kemajuan ini dan bagaimana mengaktualisasikan kesalehan sosial yang senafas dengan Islam. Mereka yang terlalu menafikan kemajuan di wilayah publik sering kali menampik kritik mode dengan cadar atau burqa. Sebuah respon simbolik yang barang kali menjelaskan posisi sosial keagamaannya. Hanya saja, terkadang menajdi anekdot karena tidak diimbangin kritik pada globalisasi secara serius karena terdapat pula sebagian dari mereka menikmati prodak globalisasi tersebut.

Mereka yang mendukuung dan hanya mengandalkan alam pikiran positivisme memakan mentah-mentah saja perubahan sosial, asal pakai yang penting ibadah jalan. Tak ayal, kesalehan sosial tentu hanya covering karena fenomena sosial tak akan diseriusi untuk dikoreksi. Intinya, moderenitas jalan tuhan jangan dilupakan. Mereka biasa dicontohkan aktif di berbagai majelis di satu sisu selalu update harga, lokasi hits, mode pakaian terbaru, dan kebiasan ala zaman Now.

Menjadi muslimah masa kini harus banyak melakukan koreksi tajam. Beriskap dalam jalan tengah tentu memberikan nafas agar ajaran Islam tetap dalam padanan yang relevan dan tidak dirarik kearah ektrem kanan atau kiri. Muslimah tetap memilki peluang untuk berpartisipasi dengan identitasnya tanpa harus mengidentifikasikan kepada agenda globalisasi yang sudah sedemikian bebas kritik karena hampir diterima setiap lapisan.

Setidaknya jalan tengah perjuangan muslimah di masa depan harus melakukan. Pertama, aktualisasi peran perempuan Indonesia yang lebih religius dan partisipasitoris. Kedua, membangun locus gerakan muslimah yang menerima kemajuan tanpa melupakan tugasnya sebagai bagian dari ummat dan bangsa. Ketiga, menyokong agenda pembangunan kelompok sosial muslimah terpelajar dan berorientasi kepada gerakan aktif perbaikan pendidikan, budaya, dan peka terhadap perubahan ekonomi politik.

Muslimah Indonesia harus mengisi relung-relung di atas. Masalah kruisial yang sering kali menempatkan perempuan lebih terletak kepada minimnya peran dan serta kritik pemikiran dan tindakan karena sering mebiasakan diri mengayun dalam kutub ektrem sampai lupa identitas dan tugas kewajibannya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *