Jangan lihat ‘Wisata Halal’ Pakai Sedotan

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Dian Sandi Utama

 

Trend wisata halal mulai berkembang seiring dengan meningkatnya populasi Muslim dunia. Meningkatnya populasi Muslim yang berusia muda, berpendidikan dan memiliki jumlah pendapatan yang tinggi membuat industri pariwisata internasional mulai menargetkan wisatawan Muslim sebagai target pasarnya.

Wisata halal sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wisata pada umumnya. Wisata halal merupakan konsep wisata yang memudahkan wisatawan Muslim untuk memenuhi kebutuhan berwisata mereka. Kebutuhan itu antara lain : adanya rumah makan bersertifikasi halal, tersedianya masjid/musholla di tempat umum, adanya fasilitas kolam renang terpisah antara pria dan wanita, dan lain-lain.

Adapun wisata syariah mengandung konsep yang lebih luas, yaitu  pariwisata yang keseluruhan aspeknya tidak bertentangan dengan syariah. Itu Point-nya!

Kalau saya membaca pernyataan salah seorang Cagub NTB, yang mengharamkan ‘Wisata Halal’ hanya karena mengartikan wisata sebagai ajang foya-foya yang kemudian membandingkan dengan; pernah atau tidak itu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, saya rasa itu sangat tidak relevan dengan keadaan kita hari ini, kondisinya jelas tidak sama sebab hari ini ‘berwisata’ sudah masuk kategori kebutuhan.

Pada jaman dahulu wisata itu sejenis tadabur alam; menikmati keindahan alam sebagai refleksi diri untuk terus mensyukuri keagungan Allah SWT akan alam semesta dan ciptaan-Nya. Namun, kalau yang dibandingkan adalah “Sikap foya-foyanya” dengan jaman dahulu, ya memang wisata pada saat itu tidak menyediakan tempat belanja-belanja seperti hari ini. Lagipula hari ini-pun tidak semua wisatawan bersifat foya-foya.

Sedangkan, kalau beliau kritik kesempurnaan dari konsep-nya, saya sependapat dengan beliau. Oleh karena itu kita harus terus mendorong pihak-pihak terkait dan yang memiliki otoritas untuk memperbaiki sistemnya, agar kemudian apa yang telah kita capai benar-benar menjadi sebuah kebanggaan. Seperti hal-nya pada tahun 2015, Indonesia meraih penghargaan dari The World Halal Travel Summit & Exhibition 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Lombok itu terpilih sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia mengalahkan Malaysia, Abu Dhabi, Turki, Qatar, dan beberapa negara nominasi lainnya.

Bahkan negara-negara yang minoritas muslim saja seperti London, Tokyo, Korea dll sedang giat-giatnya mengembangkan konsep wisata halal mengejar prestasi kita (NTB).

Itu jelas sebuah prestasi dan pengakuan Dunia internasional terhadap kita. Makanya saya heran kalau ada tokoh yang mengkritik keras bahkan sampai ‘mengharamkan’ konsep itu. Jelas itu adalah sebuah ‘dekadensi’ dalam berfikir menurut saya dan bagi saya itu cukup sebagai bukti bahwa selama ini beliau melihat konsep ‘wisata halal’ hanya menggunakan corong sedotan.

Lombok, 26 Januari 2018

 

Dian Sandi Utama

Aliansi Pemuda NTB-Jakarta

2 thoughts on “Jangan lihat ‘Wisata Halal’ Pakai Sedotan

  • January 27, 2018 at 7:05 am
    Permalink

    Saya koreksi mas :
    Kalau saya pikirkan pernyataan calon gubenur NTb itu memang kurang bersahabat bagi pariwisata NTB karna menyalahkan dan mengkritisi brand pariwisata halal tanpa solusi malah ( desteroy ) * memang yang saya lihat brand pariwisata halal ini sekarang has non corelation *
    Disatusisi pernyataan anda juga saya pandang tidak bisa dikatakan sebagai solusi pernyataan calon gubenur NTB tersebut,
    @pariwisatahalalNTB hanyalah brand marketing

    Reply
    • March 18, 2018 at 8:13 am
      Permalink

      pilihannya ada di kita. mari timbang2 mana yg paling layak meneruskan kemajuan yg telah dicapai NTB saat ini

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *