Prof. Dr. Mutawali Dikukuhkan Jadi Guru Besar

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag., akhirnya dikukuhkan jadi Guru Besar dalam Bidang Ilmu Filsafat Hukum Islam pada UIN Mataram. Pengukuhan Prof. Mutawali melalui Sidang Senat Terbuka UIN Mataram di auidtorium kampus I, Kamis (21/12).

Hadir dalam pengukuhan tersebut Drs. H. Imhal mewakili Gubernur NTB, ratusan dosen UIN, Ketua Senat UIN Mataram Prof. Dr. H. M. Taufik yang resmi membuka Sidang Senat Terbuka.

Mewakili Gubernur NTB, Drs. H. Imhal atas nama pemerintah daerah menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Rektor UIN Mataram atas dikukuhkan sebagai profesor UIN Mataram.

Diakui Imhal, bahwa keberadaan lembaga pendidikan UIN Mataram selama ini telah banyak memberikan banyak kontribusi bagi daerah. Diakuinya bahwa kemajuan daerah tidak terlepas dari peran UIN Mataram.

“Penghargaan terhadap semua civitas UIN Mataram yang banyak membantu pemerintah NTB. Mudahan dengan kegiatan yang terus dilaksanakan dalam peningkatan SDM mudahan terus ditingkatkan, baik akademik, peningkatan sarana dan prasarana, dan peningkatan mutu pendidikan,” ungkapnya.

Sementara Prof. Dr. Mutawali, M.Ag., mengaku bersyukur dengan prosesi pengukuhan Guru Besar UIN Mataram. Setelah melalui episode panjang  prosea pengusulan dan penilaian jabatan Guru Besar, di tengah ketat dan banyaknya peraturan dan persyaratan yang terus berubah dan bertambah.

“Akhirnya saya dipercaya dan ditetapkan untuk memperoleh jabatan Guru Besar dalam bidang Filsafat Hukum Islam,” urainya.

Dalam pidato pengukuhan yang diberi judul “Maqashid Al-Syari’ah : Logika Hukum Transformatif” mengungkapkan bahwa penggunaan teori maqashid dalam kajian hukum Islam telah menjadi trend akademik. Sebabnya ialah karena tampaknya paradigma maqashid diletakkan sebagai model pendekatan moderat. Seperti diakui sejumlah pemikir maqashid di antaranya adalah al-Raysuni.

Ahmad al-Raysuni sebagaimana mengutip Imam al-Syathibi mengatakan, “kita menyadari bahwa (banyak) karya dan pemikiran dalam hukum Islam, namun sebagian besar menampakkan kevakuman dan kelemahan dalam membangun kehidupan dan kreativitas”.  Hal itu terjadi karena “hilangnya” atau “dihilangkannya” ruh atau teori maqashid yang selanjutnya berakibat pada terjadinya kevakuman berpikir dalam bisang fiqh.

Untuk itu, diperlukan rekonstruksi dan memperbaharui pemahaman ushul fiqh dan fiqh bukan saja didasari kenyataan bahwa ushul fiqh dan fiqh merupakan produk suatu zaman, tetapi juga oleh adanya tuntutan yang mendesak dalam konteks realitas kehidupan yang penuh keragaman.

Menurut Mutawali, maqashid al-syari’ah merupakan sumber dari totalitas hukum Islam yang pada tataran implementatifnya dapat dijadikan sebagai paradigma pengambilan hukum Islam.

Oleh karena itu, sekiranya ada satu ketentuan hukum Islam baik dalam al-Qur’an maupun hadits yang bertentangan secara substantif dengan maqashid al-syari’ah, maka ketentuan hukum tersebut mesti direformasi demi logika maqashid al-syari’ah.

Wakil Rektor I Dr. H. Masnun mewakili Rektor UIN Mataram dalam sambutannya berharap agar gelar profesi dapat menjadi spirit baru untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Termasuk berharap agar UIN Mataram akan terus memperbanyak Guru Besar melalui akselarasi guru-guru besar.

“Semoga pada tahun-tahun yang akan datang akan lahir profesor-profesor di kampus kita sehingga akan menjadi pawang-pawang intelektual,”. (dor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *